KETIKA MEMIKIRKAN BERLARI ATAU BERJALAN
Haaii guys, Assalamualaikum
Annyeong
Kali ini, aku tiba-tiba memikirkan hal yang random ketika melihat anakku sedang berlari di depan rumah. Anakku memiliki sedikit keistimewaan pada kakinya, dimana kata dokter dia mengidap flatfoot. Aku tidak akan menjelaskan detail tentang flatfoot, karena kalian bisa mencarinya sendiri nanti.
Hanya saja, yang perlu ditekankan kembali bahwa, penderita flatfoot akan mengalami kendala saat dia berjalan atau berlari terlalu lama. Struktur kaki yang tidak normal, menjadikan sendi-sendi kaki saat berlari atau berjalan dalam waktu lama menjadi lemah, karena sendi-sendi tersebut terpaksa menopang bagian tubuh yang seharusnya menjadi tugas telapak kaki.
Karena flatfoot, anakku sebelum memakai sepatu koreksi seringkali terjatuh. Keserimpet kakinya sendiri, bahkan saat berjalan. Untuk itu, perlu pengawasan ekstra jika dia sudah keluar rumah, karena hal-hal yang aku takutkan bahwa dia akan terjatuh seringkali benar terjadi.
Tidak ada hubungannya dengan flatfoot, namun... aku jadi berfikir. Saat anakku jatuh karena berjalan, lukanya tak dalam, lebih cepat sembuh. Sedangkan saat dia berlari lalu terjatuh, lukanya bisa dalam, belum lagi memarnya.
*****
Kenapa manusia memilih berlari?
Kenapa manusia memilih berjalan?
Di titik ini aku berfikir, orang dengan jangka waktu yang cenderung lama untuk memenuhi target dalam hidupnya biasanya lebih suka berjalan. Memilih untuk menikmati setiap momen perjalanan, mengeksplorasi setiap detail yang dia temui, atau bahkan sengaja berjalan karena orang yang disukainya juga bersedia menemaninya dalam suatu perjalanan.
Tapi di titik yang lain, ada orang yang tidak memiliki kelebihan modal, akhirnya terpaksa berjalan untuk mencapai apapun yang bisa dipikirkan sebagai tujuan dalam benaknya. Dia tidak menghadapi momen yang bergairah dalam mengarungi perjalanan itu sendiri, karena satu titik yang dinamakan tujuan akhir. Iya, dia hanya terpaksa berjalan karena ingin segera sampai pada tujuannya.
Sementara di sisi yang lain, ada orang yang merasa berjalan adalah perbuatan yang menyia-nyiakan waktu. Jika tak ada modal untuk berjalan dengan metode selain kaki sendiri, mengapa tidak memilih berlari? Apalagi jika dia tidak mampu menikmati momen-momen berharga yang dia temui di jalan, akan sangat sia-sia jika menghabiskan waktu dengan berjalan saja, kan?
Tapi... tahukah kamu, bahwa baik berjalan atau berlari, kita pasti akan menemui kerikil dalam perjalanan ini. Kerikil yang hanya terserak ketika terinjak, atau kerikil yang dapat membuat kaki terpeleset, atau kumpulan kerikil yang bisa menyandung kaki tiba-tiba.
Dengan berjalan, potensi terjatuh dan terluka akibat kerikil sangatlah kecil. Kalaupun akhirnya harus terjatuh, rasa sakit yang kita rasakan tidak akan terlalu dalam.
Bandingkan jika kita memilih berlari, lalu terpeleset kerikil. Luka dan rasa sakit yang ditimbulkan akan lebih dalam, lebih membekas, dan lebih membuat kita trauma. Walaupun dengan alasan yang penting tujuan cepat tercapai, tapi pasti akan memengaruhi cara berfikir kita ke depannya, terutama dalam meregulasi ulang sebuah makna luka.
Memilih berlari atau berjalan, aku yakin hampir semua paham resikonya. Namun khayalan bahwa setiap perjalanan diharapkan akan selalu aman-aman saja, nyatanya kadang mendominasi. Imajinasi bahwa jalan yang kita lalui bisa saja membuat diri ini nyaman dan tidak terluka, akhirnya menyamarkan cara kita untuk mencapai tujuan itu.
Tentu saja berfikir optimis itu perlu, tapi rasa percaya diri yang terlalu tinggi seharusnya dibatasi. Sehingga diharapkan bisa mengontrol ritme dalam perjalanan nantinya.
Kita bisa saja berjalan santai, kita juga bisa saja berlari. Tidak harus salah satunya.
Tinggal kita lihat saja nanti, momentum yang pas kapan kita akan berjalan atau berlari. Toh setiap pilihan tentu akan ada resikonya.
Ah... banyak orang yang sudah tau hal ini, namun... semoga bisa jadi renungan lebih dalam ke depannya untuk menentukan kapan kita harus berjalan, dan kapan harus berlari.

Komentar
Posting Komentar