ANTING DAN KONSEP REJEKI

 Assalamu’alaikum Annyeong


Baiklah, yang ringan-ringan dulu.


Sudah lama aku tidak memakai anting, seingatku sejak SMA. Karena orang tuaku memerlukan tambahan biaya untuk masuk sekolah, kami merelakan beberapa perhiasan milik kami untuk dijual. Setelah aku lulus kuliah dan mulai bekerja, anehnya aku tidak kepikiran membeli anting sama sekali. Aku nyaman hidup tanpa anting.

Sampai belasan tahun kemudian, suamiku mengajak ke toko emas. Dia bilang ingin membelikanku anting. Kupikir tak akan seantusias itu, nyatanya dalam perjalanan ke toko emas aku sibuk memikirkan model apa kira-kira yang pantas untuk kupakai. Apakah anting bundar seperti yang dipakai boyband korea, atau anting tusuk yang simpel dengan mata berlian palsu di tengahnya, ataukah model anting panjang yang menjuntai tiga senti ke bawah?

Kupilih anting tusuk bengkok dengan deretan mata berlian palsu. Sebenernya pilihan model anting ini cukup beresiko, karena tidak seperti anting tusuk lurus yang ada penahan di bagian belakangnya, anting ini hanya dipasang seperti jepitan rambut. Tentu saja menggantungnya di lubang anting cukup menahannya agar tidak terlepas, tapi tetap saja beresiko jika telinga dalam keadaan licin saat mandi. Namun... tetap saja kupilih. Karena aku suka.

Tanpa disangka, anting ini cukup tangguh untuk bertahan di dua daun telingaku. Sampai beberapa bulan kemudian tanpa kusadari salah satunya lepas.



Aku bahkan tidak tahu bahwa anting sebelah kiri terlepas. Saudara yang kebetulan memakai kamar mandi menemukannya dan mengembalikannya padaku. Secara reflek aku menggumam, "Aa... ternyata anting ini masih rejekiku."


***


Dalam hidup ini, kadang kita terlalu meremehkan resiko kecil saat mengambil sebuah pilihan. Kita tidak mau memprediksi kemungkinan buruk akibat resiko kecil itu, hanya karena satu alasan, yaitu kita terlanjur suka.

Tapi, jika kita terlalu berkutat pada resiko yang kecil, maka kita juga akan kesulitan menemukan hal-hal yang kita sukai. Terlalu memikirkan akibat buruk karena resiko kecil menyebabkan kegagalan berfikir optimis, dan yang lebih penting yaitu melupakan eksistensi takdir yang ditulis oleh Tuhan.

Semua yang ada di dunia ini tentu saja bukan sepenuhnya milik kita. Manusia hanya makhluk yang dilimpahi fasilitas sesuai porsi rejeki masing-masing. Yang mana fasilitas tersebut suatu saat akan kembali pada pemiliknya yang Agung, cepat atau lambat.

Seharusnya kita bisa berfikir sederhana namun tetap realistis. Sesederhana pemikiran bahwa wajar memilih yang kita suka, dan realistis dalam memiliki resiko yang paling kecil saat memilihnya. Selanjutnya biarkan tangan Tuhan yang memberi tahu apakah kita akan menghadapi resiko buruk atau membawa keberuntungan selamanya karena pilihan itu.

Kita manusia, setelah memilih beberapa jalan yang disiapkan Tuhan, tugas kita hanya mengikuti jalan tersebut. Jika melelahkan, berhenti sejenak. Jika menyenangkan, tertawalah secukupnya. Jika sedih, menangis sekejap. Jika kecewa, ingat Tuhan saja, karena kekecewaan rupanya adalah jalan dari Tuhan yang harus dilalui. Suka atau tidak suka.

Anting milikku yang bahkan tidak kusadari kapan dia terlepas, tiba-tiba kembali melalui tangan orang lain yang menemukannya. Bukankah itu cukup menjadi bukti, walau resiko buruk itu ada, namun jika itu masih menjadi jatahmu, maka akan kembali kepadamu bagaimanapun caranya.

Selanjutnya, resiko kecil itu membuatmu lebih berhati-hati ke depannya bukan? Aku menjadi lebih sering meraba daun telinga, untuk memastikan dua anting masih terpasang di masing-masing tempatnya.


Have A Good Day All.

Kalo emang suka, jangan takut mengambil resiko. Asal resiko itu benar-benar resiko terkecil yang bisa kamu hadapi.


Wassalamu'alaikum.

Komentar

Postingan Populer